Resmi sudah rasanya Akademi Berbagi memiliki cabang wilayah Depok, karena dari 2 kelas #akberdepok sebelumnya diadakan di wilayah Jakarta Selatan yang mepet Depok.
Kelas berjudul "Social Media for SME" ini menghadirkan Yuswohady (Siwo) sebagai gurunya, seorang pakar marketing Indonesia yang saat ini beliau fokus menjadi Independent Marketing Consultant, penulis buku dan trainer marketing.
Kelas dijadwalkan pukul 14.00 WIB, namun karena tempat yang kita gunakan sebagai kelas adalah kafe yang juga biasa dijadikan ruang rapat, maka kita harus menunggu komunitas sebelumnya untuk menyelesaikan rapatnya.
Pukul 14.30 WIB @dbrahmantyo yang merupakan Kepala Sekolah #akberdepok membuka kelas #aberdepok03 kemudian dilanjutkan oleh mas Siwo yang menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan berbagai fenomena global yang mempengaruhinya. Mas Siwo pun menjelaskan tentang betapa pentingnya UKM bagi kekuatan ekonomi Indonesia. Saya tidak bisa menjelaskan secara detil slide per slide disini, tapi ada beberapa hal yang menjadi catatan saya dari kelas ini:
- Ketika sebuah brand ingin masuk ke Social Media, mereka harus tau kondisi psikologi dari target market mereka.
- Berdasarkan poin pertama, brand harus merancang konten yang tepat untuk menjaring mereka. Dengan konten yang baik, target market akan datang ke kanal Social Media yang dibuat. Poin inilah yang menuntut kita untuk dapat berkreatifitas lebih, bila ingin mendapat value yang tinggi maka konten yang dibuat harus memiliki differensiasi yang menarik. Sulit! ya sulit, kalau gampang semua orang juga bisa dong. :)
- Kenapa harus melakukan poin ke dua? ini karena Social Media marketing bersifat horizontal, customers dan brand berkedudukan sejajar karena interaksi yang terjadi secara dua arah, tidak seperti media marketing lainya yang bersifat broadcast atau Vertikal. Brand beriklan di TV tanpa customers bisa berpendapat langsung terhadap produknya. Inilah bedanya Social Media marketing dengan marketing konvensional/tradisional.
- Dengan Social Media, dimungkinan bagi brand dapat membuat produk atau sistem penjualan yang sesuai dengan kemauan customers. "Listen your customers for create "Co-Creation Product". Ini yang dilakukan oleh contohnya Starbucks, dimana mereka membuat sebuah portal untuk menyaring ide-de dari customers tentang produk dan sistem mereka dan memasukkan ke dalam strategi mereka; dan ini EFEKTIF.
Untuk detilnya, silakan melihat poin-poin yang disampaikan di slideshare ini.
Kelas pun berkembang bukan cuma mengenai poin-poin yang terdapat di dalam slide. Mas Siwo menjawabarkan tentang beberapa fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini yang dirangkumnya di dalam perbincangan di twitter dengan hastag #C3000 atau Customer 3000. Angka 3000 diambil dari pendapatan perkapita Indonesia yang udah mencapai $3000/tahun. Ini era dimana sebuah negara dianggap seksi dan menarik untuk berinvestasi. Nah, permasalahannya kemudian, negara yang sedang seksi-seksinya ini sangat rentan di colak-colek sama negara lain, investor asing menguasai hingga market-market yang bersentuhan langsung dengan mayoritas masyarakat. Lalu dimana #E3000. Apa lagi itu #E3000??
#E3000 adalah Entrepreneur 3000! Ya, Entrepreneur dari berbagai bidang yang sudah mencapai atau akan mencapai laba $3000/tahun. Berdasarkan berbagai sumber, ternyata Indonesia masih membutuhkan minimal 4,1 juta entrepreuner 3000 ini. Inilah tantangannya sebagai marketer untuk mencapai dan melahirkan kasta jenis ini.
Banyak tantangan ketika kita memutuskan untuk menjadi bagian dari #E3000, yaitu differensiasi produk dan juga membaca secara tepat market yang kita tuju, tapi jangan kendor semangat dulu. INGAT, pasar di Indonesia ini masih sangat besar, pasar Indonesia itu aduhai, jualan gorengan aja bisa untuk menghidupi keluarga, jualan kopi bisa mendunia, mengantarkan orang dari Depok ke Bandung bisa jadi milyarder (mis: Cipaganti Travel).
Fenomena #C3000 bisa dibilang akan melahirkan banyak OKB (orang kaya baru) dari kelas menengah secara masal. Produk-produk yang dulunya dikategorikan sebagai “luxurious”, sekarang ini hampir semua orang memilikinya. Jadi, kita harus sadar terhadap fenomena market yang terjadi di Indonesia sekarang ini dan kedepannya. Dan kelas menengah ini powerful! Kelas menengahlah yang mejadi pendorong utama perubahan di suatu negara/bangsa. Konon, keberadaban sebuah bangsa dipengaruhi oleh tingkat keberadaan (kemakmuran) nya; begitu juga sebaliknya. Saatnya kita untuk dapat lebih peduli dengan hal tersebut.
Wah, terdengar seperti melenceng dari judul kelasnya :) Bagi saya, inilah yang disebut Akademi Berbagi, tidak ada pola khusus yang mewajibkan sang guru mengajar hanya berdasarkan kurikulum resmi yang dibuat sebelumnya, disini guru pun bisa menjadi murid dengan saling berbagi wawasan dan pengelaman. Mas Siwo mengatakan bahwa enaknya sharing semacam kelas #aber ini adalah pembicara itu bisa belajar dari peserta yang hadir, inilah era horizontal sistem belajar semua sama-sama mengembangkan pengetahuannya.
Disela-sela kelas, ada hal menarik dari lelucon mas Siwo, "Biasanya saya kalau jadi pembicara itu dibayar, hari Senen sampe Jumat mengejar dunia, berbagipun dapat duit. Tapi kalau disini saya gak dibayar karena saya nyari akhirat. Hidup kan harus balance antara dunia-akherat kan?"
Inilah Akademi Berbagi, yang lahir dari pemikiran Mbak Ainun bahwa masih banyak orang baik di Indonesia yang mau dengan tulus membagi ilmunya dan bahwa belajar itu mudah gak harus bayar apalagi mahal.
Dan seusai kelas ditutup, beberapa peserta pun melanjutkan diskusi bersama peserta lainnya; berbagi informasi dan pengalaman masing-masing.
Apapun kelasnya, dimanapun lokasinya siapapun orangnya. Berbagi itu bikin Happy!!
~ ditulis oleh relawan pengelola #akberdepok @ka2tomi (di edit oleh @dbrahmantyo) untuk Akademi Berbagi










Komentar